Oleh – Oleh Bandung yang Khas

Oleh – Oleh Bandung yang Khas

Oleh oleh Bandung – Siapa yang tidak kenal dengan kota yang satu ini yang menyimpan banyak keindahan yang berbeda. Bandung yang bertempat di jawa barat ini memang menjadi salah satu destinasi wisata yang dapat membuat anda denga mudah mengakses kota ini.

Di Bandung ada beragam macam tempat wisata yang indah dan membuat anda betah untuk berada di kota ini. tidka heran jika setiap harinya, bandung selalu di datangi oleh wisatawan yang ingin menikmati keindahan kota bandung.

Dengan keindahan yang ada di kota bandung ini, tentunya sangat sayang untuk di lewatkan begitu saja. Dengan mengabadikan moment indah di bandung dengan menggunakan barang- barang dari ciri khas kota bandung.

Kota bandung terkenal dengan julukan kota kembang yang tentunya di sini banyak sekali keindahan yang di sajikan untuk para wisatawan baik dalam atau luar negeri.

Ketika berkunjung ke tempat baru yang indah, tentunya menjadi moment yang paling membahagiakan untuk setiap orang. tidak heran jika banyak sekali beragam jenis media yang bisa anda nikmati di sini.

Dengan keindahan kota, akses yang cepat dan oleh- oleh bandung yang tentunya jangan sampai terlupakan. Bandung terkenal dengan makanan khasnya sepeti batagot ataupun siomay.

Memang makanan yang satu ini sudah bisa di temukan di banyak tempat, namun jika anda mencicipi langsung dari kota asalnya akan lebih nikmat. Sebagai makanan khas kota bandung, makanan- makanan tersebut menjadi ciri khas dan daya tarik sendiri.

Adapun jenis makanan ataumpun souvenir yang bisa anda dapatkan dengan harga yang terjangkau, murah dan bersabat. Tidak hanya itu, dengan kenikmatan dan keindahan dari oleh- oleh yang di bawa akan membuat keluarga atau teman anda di rumah senang.

Oleh- oleh bandung seperti beragam souvenir cantik khas bandung, kaos bandung, martabak bolu khas bandung, keripik khas bandung mai chih, banana roll cheese bandung, brownies panggang coklat, bolen bandung aneka rasa taupun sedala sesuatu yang berkaitan dengan bandung.

Dengan jenis oleh- oleh tersebut tentunya akan berbeda jika anda dapatkan hanya di sini. Di sini menyediakan beragam pernak – pernik ataupun jenis makanan khas bandung untuk anda. dengan mengunjungi uotlet kami di sini akan memberikan kemudahan untuk anda menikmati keindahan kotan bandung.

Jadi, apa lagi yang anda tunggu kini saatnya untuk mendapatkan beragam kecerian dengan mendapatkan oleh- oleh khas bandung hanya di sini.

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana, Sebuah Blog

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana, Sebuah Blog

Blog, ada yang belum tahu tentang blog?

Saya yakin sebagian besar dari rekan-rekan yang membaca artikel ini tau tentang apa yang di namakan dengan blog. Blog merupakan singkatan dari “web log” adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum (sumber: wikipedia). n-da.net, atau web yang sedang anda kunjungi saat ini merupakan salah satu contohnya.

blog

Bagi seorang pembisnis online, media blog sangatlah penting berperan dalam perkembangan bisnisnya, “mengapa?”, karena melalui media blog anda bisa, kalau dalam bahasa ekstreemnya “menjual diri”, memperkenalkan siapa diri anda melalui tulisan-tulisan yang anda buat, sekaligus secara tidak langsung mempromosikan beragam program-program bisnis online yang anda ikuti.

Apa saja jenis-jenis program bisnis online yang bisa kita optimalkan melalui media blog ini?, saya ambil contoh misalnya:

Yang pertama adalah program affiliasi, baik itu beragam program affiliasi berbayar maupun gratisan seperti yang saya rekomendasikan di bisnisgratis.duniadownload.com, semisal program dynasis, neobux, dan sebagainya. Melalui media blog kita bisa memperkenalkan beragam program affiliasi yang kita ikuti kepada orang lain, dan mendapatkan referral melalui cara ini.

Selanjutnya adalah program periklanan PPC (paid Per Click) lokal. Jika blog anda merupakan blog berbahasa indonesia, maka anda dapat memasang iklan-iklan dari kumpulblogger di blog anda, jadi setiap ada orang yang mengklik iklan yang di tampilkan di blog anda tersebut, maka andapun akan mendapatkan tambahan penghasilan dari sana.

Apabila ada file-file yang ingin anda sharing melalui media internet, maka tidak ada salahnya juga bagi anda untuk menggunakan ziddu sebagai media penyimpanan filenya, karena mereka akan membayar kita untuk setiap file yang di download.

Contoh pembayaran dari program PPC lokal yang saya terima: (yang ini belum pernah saya publikasikan di web manapun yg saya miliki)

Bukti pembayaran PPC lokal

Intinya adalah, melalui media blog terdapat banyak sekali peluang bagi anda untuk menghasilkan uang dari internet. Tanpa batas!, karena internet begitu luas.

Namun meski demikian anda sebaiknya jangan hanya berorientasi pada bagaimana cara anda bisa mendapatkan banyak uang melalui blog yang anda buat, melainkan fokus kepada apa yang bisa “anda berikan!” kepada orang lain melalui blog tersebut, semakin orang lain bisa merasakan manfaat dari keberadaan blog anda, maka seiring dengan itu pula blog anda akan semakin di kenal orang, & dikunjungi banyak orang.

“Berfikirlah untuk memberi terlebih dahulu kepada orang lain, baru di kemudian hari anda akan menerima lebih daripada apa yang anda bayangkan” (karnanda, 2009)

Karena pada dasarnya bisnis online adalah jenis bisnis yang perlu untuk di RINTIS secara bertahap, bukan sebuah bisnis yang dapat menghasilkan banyak uang dalam sekejap.

So, jika anda belum memiliki blog saat ini, buatlah segera!.

Beragam ebook gratis panduan tentang blog bisa rekan rekan temukan di website duniadownload, khusus pada bagian ebook blog.

Perlukah Mengirim Tulisan ke Media yang Honornya Kecil?

Perlukah Mengirim Tulisan ke Media yang Honornya Kecil?

Ide tulisan ini berawal dari sebuah diskusi dari Story Teenlit Magazine di Facebook. Seorang teman bernama Mimi Aira bertanya:

Apa yang akan Anda lakukan jika ada sebuah majalah memberitahu kalau cerpen kita akan diterbitkan dengan honor (maaf) minim? Majalah tersebut juga minta untuk menerbitkan cerpen kita setiap majalahnya terbit. Apakah Anda akan terus mengirim tulisan ke majalah tersebut?

Pertanyaan ini dengan cepat mengundang diskusi yang seru dari para anggota group, termasuk para penulis senior seperti Donatus A. Nugroho, Reni Erina, Palris Jaya, Achi TM, dan beberapa nama lainnya.

Memang, sejujurnya harus kita akui bahwa ada sejumlah penulis yang menjadikan uang sebagai pertimbangan utama ketika mereka “menjual” naskah ke pihak lain. Setiap kali mengirim naskah ke media cetak misalnya, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah, “Berapa honornya?” Kalau ternyata kecil, mereka tak jadi mengirim naskah. Kalaupun akhirnya mengirim, itu karena mereka benar-benar sedang butuh uang

Berita baiknya, para penulis yang berdiskusi pada group “Story Teenlit Magazine” tersebut memiliki pandangan yang berbeda. Berikut saya kutip beberapa di antaranya.

Donatus A. Nugroho:

Honor pentinglah. Sangat penting. Dan jangan segan menghargai karya sendiri. Masalahnya kita kudu wise, dan bisa memahami media yang bersangkutan. Kerja sama yang baik, saling pengertian, adalah situasi yang perlu dijaga antara penulis dan penerbit (dan atau sebaliknya).

Reni Erina:

Honor memang penting. Tapi adakalanya eksistensi dan kebersamaan jauh lebih penting dari itu semua.

Palris Jaya:

Menurut saya, honor tetap sangat penting! Dan ketika ada media yang dengan jujur mengatakan honor yang minim, dan meminta kita untuk menulis rutin, itu sangat-sangat penting. Sebab, media itu sangat menghargai kita. Bagi saya itu sebuah kehormatan. Dan kelak, media itu menjadi besar dan utama, andil kita pasti tidak dilupakan. Bandingkan bila ada media baru, memuat karya kita, gak ada omongan. Ketika ditanya honor, seimprit, habis gitu gak bayar-bayar. Bisa saja kita merasa disemena-menakan.

* * *

Teman-teman sekalian,

Dalam pandangan saya, menulis di media massa itu punya tiga tujuan utama:

Portofolio. Semakin banyak tulisan kita yang dimuat di media massa (khususnya media cetak), itu akan makin meningkatkan kredibilitas dan reputasi kita sebagai penulis.

Menjalin hubungan baik dengan media tersebut. Ya, ini tentu sangat jelas. Bila tulisan kita dimuat di media A, artinya hubungan silaturahmi kita dengan media A akan terjalin dengan baik. Bila ada 20 media yang rutin memuat tulisan kita, maka kita punya jaringan dan silaturahmi yang kuat dengan ke-20 media tersebut. Kita harus ingat bahwa hubungan silaturahmi seperti ini jauh lebih bernilai harganya ketimbang honor.

Meniti karir sebagai penulis. Bila tulisan kita dimuat, maka level kita sebagai penulis akan meningkat. Semakin banyak tulisan kita yang dimuat, maka level kita pun akan makin naik. Secara tidak langsung, nama kita sebagai penulis pun makin dikenal.

Salah satu cerpen saya yang dimuat di majalah Story, membuat saya bahagia karena silatirahmi dengan majalah tersebut menjadi semakin baik.

Nah, demikianlah konteksnya bila kita menulis di media massa.

“Jadi honor sama sekali tidak penting, ya?”

Hm, bukan tidak penting. Tentu saja honor itu penting. Kalau saya berkata tidak penting, itu artinya saya munafik. Karena setiap orang pasti butuh uang. Setiap orang termasuk saya, pasti akan senang bila diberi uang.

Tapi seperti pendapat teman-teman penulis yang saya kutip di atas, honor bukanlah segalanya. Bagi seorang penulis pemula, pasti bila naskahnya berhasil dimuat pun sudah sangat senang. Berapa honornya bagi mereka sama sekali tidak penting.

Nanti bila semakin banyak naskah Anda yang dimuat, maka secara perlahan “kelas” Anda akan semakin meningkat. “Daya tawar” Anda di depan media pun semakin kuat. Dan bila “daya tawar” sudah sangat kuat, maka Anda bahkan bisa berkata kepada setiap media, “Saya hanya mau memuat tulisan di media Anda bila honornya sekian juta rupiah.” Walau faktanya Anda tidak tega berkata seperti itu, tapi yang jelas Anda bisa melakukannya bila Anda mau

Intinya, karya kita akan “dihargai mahal” bila kita memang sudah berhasil MEMBUKTIKAN kepada para media bahwa kita memang PANTAS dibayar semahal itu. Jadi daripada sibuk menuntut semua media agar memberikan honor yang mahal untuk tulisan-tulisan kita (padahal menurut mereka kita mungkin belum pantas untuk mendapat honor sebesar itu), alangkah bijaksananya bila kita fokus untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis.

Bila kualitas kita sudah meningkat, maka tanpa diminta pun semua media akan dengan senang hati membayar naskah kita dengan harga yang pantas.

Reni Erina dalam catatannya di group Story Teenlit Magazine tersebut, menulis:

“….aku teringat masa lalu. Honor kecil, bahkan terkadang hanya dibayar dengan alat tulis atau t-shirt. Sekarang ini aku bisa mematok harga. Sayangnya, aku gak selalu matre. Ada kalanya aku “kerja bakti” untuk meramaikan sebuah majalah, atau buku atau acara. Ada kalanya aku harus “Bebel”.

…Ingat, tak selamanya semua dilihat dari NOMINAL. Bahwa honor adalah sesuatu yang penting. Tetapi sekali lagi, lihat sampai sejauh mana kita bisa disejajarkan dengan nominal….”

Selain itu, ada tiga faktor lain yang perlu kita perhatikan:

PERTAMA:

Tiap media punya kebijakan yang berbeda-beda mengenai besarnya honor. Ada yang hanya sanggup memberikan honor kecil, karena media mereka pun masih kecil. Ada pula media yang berani membayar mahal bahkan untuk penulis pemula sekalipun.

Sebagai penulis kita haruslah menyesuaikan diri dengan kebijakan seperti itu. Kita jangan ngotot meminta honor (misalnya) Rp 1 juta pertulisan pada media yang hanya sanggup membayar (katakanlah) Rp 100 ribu. Seperti yang saya sebutkan di atas, yang paling penting dalam pemuatan naskah di media adalah portofolio, menjalin hubungan baik, dan meniti karir. Cobalah mengirim naskah dengan niat seperti ini. Maka kita tak akan berkecil hati lagi dengan honor yang kecil.

KEDUA:

Semua tergantung konteksnya. Misalkan ada media yang meminta kita mengirim naskah untuk dimuat. Sejak awal dia langsung bicara soal bisnis, keuntungan materi, dan sebagainya. Maka bila berhadapan dengan media seperti ini, tentu SANGAT LAYAK bila kita pun langsung meminta honor yang besar dan tidak bersedia bila dibayar “seadanya”.

Sebaliknya bila ada media yang meminta kita mengirim naskah dengan semangat kekeluargaan, penuh persahabatan, dan untuk mempererat tali silaturahmi, tentu akan sangat terhormat bila kita menyikapinya dengan semangat yang sama dan tidak terlalu perhitungan soal honor.

KETIGA:

Tiap penulis punya orientasi atau pilihan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi pengisi waktu luang belaka. Karena itu, honor tulisan bagi mereka tidak terlalu penting. Ada pula penulis yang sumber penghasilan utamanya bukan dari honor tulisan, tapi dari sumber-sumber lain. Ada pula penulis yang memang benar-benar mengandalkan penghasilan utamanya dari honor tulisan di media massa. Intinya, setiap penulis itu beda, tidak bisa disamaratakan. Setiap penulis punya pilihan hidup yang berbeda-beda.

Donatus A. Nugroho

Donatus A. Nugroho adalah contoh penulis yang berhasil membuktikan bahwa dia bisa hidup mapan hanya dari honor tulisan. Dalam diskusi di group Story Teenlit Magazine tersebut, dia menceritakan bahwa dirinya berhasil membeli mobil dan rumah hanya dari honor-honor tulisannya di berbagai media.

Luar biasa? Tentu saja! Sejujurnya saya pun benar-benar “ngiler” mendengar cerita tersebut. Tapi janganlah Anda berpikir bahwa semuanya didapatkan Donatus dengan mudah. Sebab kita juga harus menyadari EMPAT FAKTA PENTING berikut:

Bila kita hanya fokus mengirim tulisan pada satu media, maka kita tak akan pernah kaya dari menulis. Sebab tidak mungkin tulisan kita bisa dimuat pada setiap edisi. Paling banter hanya sekitar sebulan sekali. Sebab yang mengirim tulisan ke media tersebut pasti sangat banyak. Si pengelola media pun tidak akan bersedia bila majalah mereka hanya diisi oleh tulisan-tulisan Anda. Mereka pun ingin memanjakan pembaca dengan berbagai macam tulisan dari beragam penulis.

Bayangkan bila honor pemuatan tulisan di media tersebut adalah Rp 500.000 pernaskah. Bisakah kita hidup layak hanya dengan uang Rp 500.000 perbulan? Tentu bisa, tapi pasti hidup yang sangat prihatin dan serba kekurangan, hehehe….

Dari poin 1 di atas, dapat disimbulkan bahwa bila kita mengandalkan penghasilan utama dari honor tulisan di media, maka kita harus berusaha agar tulisan kita bisa dimuat setidaknya 5 hingga 30 kali dalam sebulan. Masih dari poin 1 di atas, kita tak mungkin memuat 5 hingga 30 tulisan perbulan pada satu media saja. Artinya, kita harus mengirim tulisan ke banyak media. Mungkin 10 atau 20 atau 30 atau 40 media!

Agar mencapai kondisi seperti poin 2 di atas, tentu saja kita haruslah sudah berhasil membuktikan kualitas diri sebagai penulis di depan para media. Sebab tak mungkin tulisan kita dimuat setiap hari di berbagai media, bila reputasi kita sebagai penulis masih meragukan. Artinya, agar bisa hidup berkecukupan dari honor tulisan di media, tentu kita harus berjuang dulu untuk menjadi penulis yang kredibel dan punya reputasi baik di depan para media, penerbit, dan seterusnya. Tentu saja, kita harus melewati berbagai macam perjuangan, suka duka dan pengorbanan terlebih dahulu. Sebab semua sukses hanya bisa dicapai bila kita sudah melewati hal-hal seperti  itu.

Tentu saja, Donatus A. Nugroho telah melewati semua itu. Jadi Anda jangan hanya silau melihat keberhasilan dia saat ini. Tapi lihat, pelajari, dan renungkan bagaimana dulu ketika dia masih berjuang untuk meraih sukses.

Agar bisa memuat tulisan setiap hari di berbagai macam media, tentu saja Anda haruslah menjadi penulis produktif. Dengan kata lain, Anda harus FOKUS di dunia penulisan, menjadikan kegiatan menulis sebagai PEKERJAAN UTAMA Anda. Artinya, Anda harus menjadi full time writer. Sebab tak mungkin kita bisa menjadi seorang yang mendapatkan penghasilan utama dari menulis, bila kita sendiri tidak bersedia berjuang secara sungguh-sungguh untuk menjadi seorang full time writer.

Nah, apakah Anda ingin seperti Donatus A. Nugroho? Bila ya, maka yang harus Anda lakukan adalah fokus dan konsisten di dunia penulisan, dan berjuang agar suatu saat nanti bisa menjadi full time writer. Sebagai bahan referensi, coba Anda baca tulisan yang satu ini.

Sementara bila Anda punya pilihan hidup lain dan tak mau seperti mas Donatus, tentu tidak masalah karena hak setiap orang untuk menentukan pilihan hidup masing-masing.

Saya sendiri, terus terang bukanlah penulis seperti mas Donatus. Sejak tahun 2004 saya bahkan hanya sesekali mengirim tulisan ke media cetak. Saya lebih banyak menulis di internet. Kenapa? Karena saya merasa itulah pilihan hidup yang paling pas buat saya.

“Emang ada penghasilannya kalau menulis di internet?”

Hehehe… jangan salah sangka! Coba baca dulu tulisan yang ini dan yang ini. Sekadar info: Saat ini saya mendapat job untuk menulis empat tulisan di blog pribadi saya, dan tujuh tweet di Twitter, dan bayarannya setara dengan gaji seorang staf senior di perusahaan ternama. Alhamdulillah, sangat lumayan, bukan?

Karena fokus menulis di internet itulah, saya termasuk penulis yang tidak terlalu memikirkan berapa besarnya honor tulisan yang dimuat di media cetak. Bahkan tulisan saya pernah dimuat di sebuah majalah, dan saya tidak mendapat honor. Kenapa? Karena tulisan saya tersebut berisi “iklan terselubung” untuk bisnis kepenulisan yang saya kelola. Jadi wala tidak dibayar, saya merasa senang karena bisa berpromosi secara gratis di sebuah majalah. Sangat lumayan, kan?