Kalimat Pembuka dalam Menulis

Kalimat Pembuka dalam Menulis

“Sebenarnya saya mempunyai banyak sekali ide. Tetapi saya selalu kesulitan untuk memulai menulis. Saya kesulitan membuat kalimat pembuka.”

Itu adalah bagian dialog saya dengan seorang gadis asal Kalimantan melalui Yahoo! Messenger beberapa waktu lalu. Seperti biasanya, setiap keingintahuan yang terkait dengan hal ikhwal penulisan, selalu menggelisahkan saya. Selanjutnya, berupaya mencarikan alternatif jawabannya.

Bagaimana membuat kalimat pembuka?

Kita langsung masuk pada contoh saja ya? Biar lebih mudah. Satu misal, saya ingin menulis sebuah artikel tentang “kebahagiaan”. Bagaimana contoh implementasi kalimat pembukanya? Ada dua macam. Kita bisa mulai dengan bertanya atau dengan bercerita (memberikan deskripsi tentang sesuatu).

  1. Mulai dengan “bertanya”

Bertanya kepada pembaca sama halnya dengan menciptakan kontak batin. Dampaknya sangat bagus. Perasaan pembaca menjadi lebih nyaman. Mengapa? Karena sejak awal, kita sudah mengundang mereka untuk terlibat akrab, masuk ke dalam topik/pesan yang sedang kita sampaikan.

Bertanya tentang APA?

Tentang keadaan pembaca:

Pada tulisan yang sifatnya informal ringan, kita bisa menyapa/bertanya dengan kalimat bernada ceria, tentang keadaan pembaca. Misalnya:

Hai! Apa kabar? Saya yakin Anda sehat. Jika tidak, Anda tak mungkin berada di sini, bukan? Kali ini Anda dan saya sedang membahas tentang….

Hai! Apakah Anda sedang bahagia hari ini? Atau gelisah? Sedih? Kecewa karena ditinggalkan oleh seseorang yang Anda cintai? Nah! Itulah topik tulisan hari ini, yang khusus saya persembahkan untuk Anda. Ya! Kebahagiaan. “The happines”, menurut pakar psikologi X, adalah….

Tentang KATA KUNCI

Pernahkah Anda merasakan kesedihan yang mendalam? Kali ini, kita pasti sependapat bahwa kita tidak perlu membahas soal kesedihan. Mengapa? Sebab kesedihan hanya akan menimbulkan penderitaan. Pada kesempatan ini, Anda dan saya akan membahas lawan kata dari kesedihan dan penderitaan. Apakah itu? Ya! Kebahagiaan. Seperti kita ketahui, kebahagiaan adalah….

“Kebahagiaan”. Pernahkah Anda mengalami kebahagiaan yang sangat? Pernahkah Anda merasa sangat bahagia? Cobalah ingat-ingat momen itu! Apa yang sedang terjadi kepada Anda sehingga Anda merasakan kebahagiaan yang amat sangat itu?

  1. Mulai dengan “bercerita/deskripsi”

Kita bisa mengawali tulisan dengan bercerita. Cerita atau deskripsi itu bisa berupa kisah kejadian yang menjadikan kita merasa harus menuliskan topik tersebut. Lalu kita fokuskan kepada “kata kunci” atau topik yang akan kita tulis atau bahas. Berikut contohnya:

Kira-kira sebulan lalu, saya bertemu seorang sahabat lama. Sejak perpisahan SMA itu, sudah dua tahun kami tidak saling bertemu. Namanya Sutia. Saya hampir tak mengenalinya,  sebab wajah dan sosoknya berubah drastis. Dulu ia adalah gadis tercantik di kelas kami. Tidak hanya cantik, tetapi ia juga pintar, cerdas, ramah, pandai bergaul dan selalu ceria. Keadaan yang saya lihat waktu itu adalah sebaliknya. Saya merasa ada sesuatu yang aneh.  Badannya kurus. Rambut dan mukanya pun kusam. Sepertinya ia tidak lagi suka merawat dirinya. Ketika saya ingin lebih lama berbincang dengannya, ia menghindar, buru-buru pamit meninggalkan saya. Saya kira ada sesuatu yang  sengaja disembunyikan. Dan itu pastilah sesuatu yang tidak membahagiakan. Tidak bermaksud su’udzon, tetapi saya dapat merasakannya. Sepertinya Sutia memang sedang tidak bahagia….

Suatu ketika saya pernah bertanya kepada seorang kawan. Ratna namanya. “Rat, kira-kira saya boleh tahu nggak, apa yang kau cari dalam hidupmu?” Dia menjawab, “Aku ingin sehat dan bahagia.” Sehat dan bahagia. Dua kata ini membuat kami sempat berdebat cukup lama. Menurut Ratna, sehat itu belum tentu bahagia dan sebaliknya, bahagia itu belum tentu sehat. Sedang menurut saya, kebahagiaan itu tergantung kepada kesyukuran.

Ia hanya merupakan efek dari rasa syukur.  Rasa syukur atas kesehatan yang dianugerahkanNya dapat membuat seseorang merasa bahagia. Jadi, secara seri, urut-urutannya begini, (1) SEHAT (atau apapun keadaannya),  (2) SYUKUR,  (3) BAHAGIA.  Saya sulit memahami mengapa Ratna mendudukkan kata sehat dan bahagia itu secara paralel (bukan seri). Sehat dan bahagia, “harus paralel, satu paket”, katanya. Nah, inilah topik menarik kita kali ini….

Bagaimana? Itu tadi hanya beberapa contoh. Tentu saja kita dapat mengkreasi lebih beragam lagi model kalimat pembuka.

Apapun modelnya, setelah membuka dengan kalimat pembuka, kita harus tetap fokus kepada topik dan jangan lupa! Muara tulisan Anda harus dijaga. Muara tulisan? Ya! Apakah muara tulisan itu? Ini akan menjadi topik kita berikutnya. Salam!

Tips Menumbuhkan Kebiasaan Menulis Artikel

Tips Menumbuhkan Kebiasaan Menulis Artikel

Mungkin artikel model begini sudah yang ke-sekian kali saya tulis. Pada banyak artikel sebelumnya sudah sering saya bahas aneka tips dan trik menulis artikel blog. Tapi anehnya, masih banyak kawan-kawan blogger yang kesulitan meng-update blog secara rutin. Ada saja alasannya. Kalau nggak sibuk kuliah atau kerja, biasanya sibuk jalan-jalan ke mall sama anak dan isteri.

Nah, kali ini saya merangkum pemikiran beberapa artikel lama mengenai cara menumbuhkan kebiasaan menulis bagi kawan-kawan blogger pemula. Tapi yang sudah lama ngeblog pun boleh kok kalau mau mengkritisi pernyataan ini. Apa saja 10 hal tersebut. Ini dia…

  1. Jangan takut menulis menurut cara Anda sendiri.

Terkadang Anda harus cuek terhadap komentar miring para pembaca yang mencoba mengintimidasi Anda dengan opini yang subyektif dan terkesan individualis. Misalkan dia menyarankan cara menulis menurut si A bagus, si B jelek dan seterusnya. Saat menghadapi keadaan demikian, saya ingin Anda berani berkata: “Tulisan ini gue banget gitu loh…!”

  1. Hindari membandingkan kemampuan diri dengan yang lain.

Setiap orang punya jalan yang berbeda-beda dalam mencapai kesuksesan. Ada yang mampu berkembang secara cepat dan konsisten melangkah. Ada pula yang berprinsip alon-alon pokoke kelakon. Sawang sinawang dalam ngeblog hanya bikin makan hati dan menyebabkan otak stress. Terus satu hal lagi, kesuksesan untuk orang lain bukan berarti kegagalan bagi Anda. Nggak boleh syirik ya! Terima dan syukuri apapun yang Anda miliki saat ini.

  1. Temukan keunikan Anda.

Saat mengetahui blog sebelah sukses menerbitkan artikel marketing dengan limpahan pujian dan sanjungan, apakah lantas hal ini menjadikan Anda ikut-ikutan membahas marketing? Boleh saja jika memang Anda berkompeten di bidang tersebut. Jika tidak, mending nulis hal lain yang memang Anda kuasai. Kalaupun tidak ada respons dari pembaca ya nggak masalah. Inilah saatnya menciptakan market tersendiri sesuai ‘dunia’ Anda.

  1. Jangan tergesa-gesa saat menulis.

Sudah buat blog tapi bingung mau nulis apa? Tenang, jangan keburu pasang jurus seribu bayangan. Ambil break sebentar nggak melanggar hukum kok. Luangkan waktu untuk jalan-jalan keluar sekedar berkenalan dengan tetangga baru (kali aja dapat nomer HP-nya) Biarkah pikiran Anda lebih tenang dan siap menjelang ide-ide segar untuk dituangkan ke dalam tulisan.

  1. Bagikan pengalaman sehari-hari dengan orang lain.

Anda punya suami, isteri, sahabat karib dan orang-orang terdekat lainnya? Coba bagi sedikit peristiwa yang Anda alami selama sehari kepada mereka. Lalu amati respons yang diberikan. Hal ini setidaknya menjadi gambaran apakah topik yang Anda bahas cukup menarik perhatian kalau diterbitkan dalam blog. Kalau malu ngomong face to face, manfaatkan saja situs jejaring sosial. Mudah kan!

  1. Pegang teguh prinsip Anda.

Tidak semua pengunjung blog berasal dari komunitas yang sama dengan Anda. Ada yang berasal dari dunia penulis, pemasar, desainer, pelajar atau mahasiswa, ibu rumah tangga dan banyak latar belakang lain. Sehingga tarik-menarik kepentingan lintas kelompok sangat mungkin terjadi. Situasi ini memang tidak mengenakkan. Namun dapat segera Anda atasi kalau Anda punya prinsip yang kokoh dan tidak mudah terbawa arus.

  1. Jangan boros waktu dan uang.

Internet memang asyik dan akan tetap mengasyikkan. Kalau sudah duduk depan laptop sampai-sampai nggak tahu pergantian siang dan malam. Apalagi kalau terjebak gangguan-gangguan yang menyenangkan, ibaratnya waktu 24 jam sudah seperti 1 jam saja. Untuk itu perlu membuat skala prioritas agar paket internet unlimited Anda benar-benar membawa manfaat bagi aktifitas ngeblog.

  1. Perluas pengetahuan.

Cara yang paling umum dilakukan adalah dengan membaca buku, baik buku cetak maupun buku elektronik (ebook). Kegiatan ini nggak butuh banyak dana. Sekarang banyak free ebook beredar di internet, baik berbahasa Indonesia maupun bahasa asing. Banyak juga buku diskon yang tersedia di TB Gramedia. Tinggal pilih mana yang sesuai dengan topik pilihan dan cara belajar Anda.

  1. Bergabung dalam sebuah komunitas.

Banyak komunitas blogger didirikan. Baik offline maupun online. Misalnya Tugu Pahlawan Comunity, Kawanua dan Otodidak.info Lalu banyak juga forum diskusi yang dijalankan berbasis layanan yahoogroup. Misalnya Forum Lingkar Pena (FLP), Forum Detiknet, Bisnis Halal dan lain-lain. Interaksi dengan kawan-kawan yang ‘sepaham’ lebih banyak memberi manfaat dalam ide menulis maupun motivasi diri.

  1. Praktek menulis setiap hari.

Practice makes perfect. Dengan latihan yang teratur, sedikit demi sedikit akan terbentuk kemampuan menulis secara alami. Semudah itukah menjalankannya? Prakteknya nggak gampang. Butuh waktu dan kesabaran ekstra. Tapi banyak untungnya kalau Anda bisa menulis tiap hari. Setidaknya Anda nggak perlu dana tambahan untuk menyewa jasa penulis bayangan.

Re-Welcome….. to Me :)

Re-Welcome….. to Me :)

Ini baru yang dikatakan pengalaman berharga, Setelah saya non-aktif dari dunia per-online-an hampir 2 bulan.

Waow, prihatin juga dengan diri saya 🙁 yang selama ini memang seringkali membaca postingan rekan2 blogger bagaimana tidak enaknya terhalang blogging dalam jangka waktu yang cukup lama karena kesibukan pekerjaan offline kita.

Saat membaca artikel-artikel tersebut muncul dalam benak pikiran saya, “wah, itu kan resiko yang kalian ciptakan sendiri 🙂 ”. Nah, ternyata setelah lebaran tahun ini pun saya baru bisa merasakan pelajaran itu, bagaimana saya harus terpaksa tidak bisa online karena banyak hal yang menimpa saya akhir-akhir ini. Mulai dari kabar duka yang sempat menimpa keluarga besar saya, hingga pekerjaan yang saya yang kian menumpuk.

Alhasil, saya bisa mengatakan diri saya sebagai orang yang kuper beberapa saat. Bagaimana tidak, banyak sekali update informasi dari teman-teman yang saya lewati.

Menyesal? ya tentu saja. Tapi ini bisa menjadi pelajaran berharga buat diri saya sebagai newbie di dunia blogging, dan menjadi penyemangat untuk me-manage diri saya. Semoga pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran berharga buat temen-temen.

Rewelcome for me…. 🙂

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana, Sebuah Blog

Mulailah dengan sesuatu yang sederhana, Sebuah Blog

Blog, ada yang belum tahu tentang blog?

Saya yakin sebagian besar dari rekan-rekan yang membaca artikel ini tau tentang apa yang di namakan dengan blog. Blog merupakan singkatan dari “web log” adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum (sumber: wikipedia). n-da.net, atau web yang sedang anda kunjungi saat ini merupakan salah satu contohnya.

blog

Bagi seorang pembisnis online, media blog sangatlah penting berperan dalam perkembangan bisnisnya, “mengapa?”, karena melalui media blog anda bisa, kalau dalam bahasa ekstreemnya “menjual diri”, memperkenalkan siapa diri anda melalui tulisan-tulisan yang anda buat, sekaligus secara tidak langsung mempromosikan beragam program-program bisnis online yang anda ikuti.

Apa saja jenis-jenis program bisnis online yang bisa kita optimalkan melalui media blog ini?, saya ambil contoh misalnya:

Yang pertama adalah program affiliasi, baik itu beragam program affiliasi berbayar maupun gratisan seperti yang saya rekomendasikan di bisnisgratis.duniadownload.com, semisal program dynasis, neobux, dan sebagainya. Melalui media blog kita bisa memperkenalkan beragam program affiliasi yang kita ikuti kepada orang lain, dan mendapatkan referral melalui cara ini.

Selanjutnya adalah program periklanan PPC (paid Per Click) lokal. Jika blog anda merupakan blog berbahasa indonesia, maka anda dapat memasang iklan-iklan dari kumpulblogger di blog anda, jadi setiap ada orang yang mengklik iklan yang di tampilkan di blog anda tersebut, maka andapun akan mendapatkan tambahan penghasilan dari sana.

Apabila ada file-file yang ingin anda sharing melalui media internet, maka tidak ada salahnya juga bagi anda untuk menggunakan ziddu sebagai media penyimpanan filenya, karena mereka akan membayar kita untuk setiap file yang di download.

Contoh pembayaran dari program PPC lokal yang saya terima: (yang ini belum pernah saya publikasikan di web manapun yg saya miliki)

Bukti pembayaran PPC lokal

Intinya adalah, melalui media blog terdapat banyak sekali peluang bagi anda untuk menghasilkan uang dari internet. Tanpa batas!, karena internet begitu luas.

Namun meski demikian anda sebaiknya jangan hanya berorientasi pada bagaimana cara anda bisa mendapatkan banyak uang melalui blog yang anda buat, melainkan fokus kepada apa yang bisa “anda berikan!” kepada orang lain melalui blog tersebut, semakin orang lain bisa merasakan manfaat dari keberadaan blog anda, maka seiring dengan itu pula blog anda akan semakin di kenal orang, & dikunjungi banyak orang.

“Berfikirlah untuk memberi terlebih dahulu kepada orang lain, baru di kemudian hari anda akan menerima lebih daripada apa yang anda bayangkan” (karnanda, 2009)

Karena pada dasarnya bisnis online adalah jenis bisnis yang perlu untuk di RINTIS secara bertahap, bukan sebuah bisnis yang dapat menghasilkan banyak uang dalam sekejap.

So, jika anda belum memiliki blog saat ini, buatlah segera!.

Beragam ebook gratis panduan tentang blog bisa rekan rekan temukan di website duniadownload, khusus pada bagian ebook blog.

Teknik Menulis Cepat ala Edy Zaqeus

Teknik Menulis Cepat ala Edy Zaqeus

Dalam proses ini Anda dituntut mampu menjaga keselarasan dan konsistensi penuangan gagasan dan menyelesaikan draft artikel dengan cepat. Hal ini penting supaya artikel yang Anda tulis mampu menyajikan tulisan yang lengkap, tidak melompat-lompat, alur pemikiran terstruktur meskipun pada awalnya hanya berupa sekumpulan coret-coretan.

Just Let It Flow…!

Tak perlu takut salah menulis. Tak perlu mengkoreksi tulisan terlalu dini. Juga tak perlu ragu kalau tulisan kita nanti menyalahi pedoman menulis bahasa Indonesia yang baik dan benar. Anda cukup membiarkan jari-jari menari di atas keyboard secara spontan sampai pikiran Anda merasa plong dan unek-unek telah dikeluarkan seluruhnya.

Karena sifatnya dilakukan secara cepat, maka aktifitas ini tidaklah membebani pikiran Anda. Coretan-coretan dalam draft kasar dapat disikapi secara kreatif. Jika poin-poin yang Anda tulis cukup detail tiap paragraf, maka pengembangan ide dapat dilakukan relatif cepat dan mudah. Saat Anda berhasil menyelesaikan satu paragraf, saya yakin Anda akan semakin semangat menyelesaikan paragraf-paragraf berikutnya.

Hindari Yang Berikut Ini…

Namun ada beberapa hal yang perlu Anda hindari agar proses menulis cepat dapat berlangsung efektif. Diantaranya adalah:

Hindari penulisan link sumber data atau referensi saat itu juga. Anda bisa mengedit URL sumber data beberapa saat sebelum publish.

Kalau memang tulisan cepat menghasilkan artikel yan tidak memiliki koherensi (keterkaitan ide antar paragraf), maka jangan buru-buru diedit saat menulis.

Proses editting dan pengayaan dapat dilakukan saat keseluruhan paragraf telah berhasil ditulis.

Menurut fleksibilitas dan kemudahan prakteknya, teknik ini cocok diterapkan bagi Anda yang super sibuk namun tetap bersemangat meng-update artikel blog. Di satu sisi Anda bisa menuangkan letupan-letupan ide yang mendesak, di sisi lain Anda juga menyelesaikan satu tugas wajib seorang blogger.

Jadi, saat menemukan sekilat ide harus secepatnya ditangkap walaupun tengah serius bekerja. Ambil jeda sebentar dan wujudkan ide menjadi tulisan. Bila hal ini sering Anda lakukan, saya yakin nggak ada yang namanya blog telat postin seminggu.

Perlukah Mengirim Tulisan ke Media yang Honornya Kecil?

Perlukah Mengirim Tulisan ke Media yang Honornya Kecil?

Ide tulisan ini berawal dari sebuah diskusi dari Story Teenlit Magazine di Facebook. Seorang teman bernama Mimi Aira bertanya:

Apa yang akan Anda lakukan jika ada sebuah majalah memberitahu kalau cerpen kita akan diterbitkan dengan honor (maaf) minim? Majalah tersebut juga minta untuk menerbitkan cerpen kita setiap majalahnya terbit. Apakah Anda akan terus mengirim tulisan ke majalah tersebut?

Pertanyaan ini dengan cepat mengundang diskusi yang seru dari para anggota group, termasuk para penulis senior seperti Donatus A. Nugroho, Reni Erina, Palris Jaya, Achi TM, dan beberapa nama lainnya.

Memang, sejujurnya harus kita akui bahwa ada sejumlah penulis yang menjadikan uang sebagai pertimbangan utama ketika mereka “menjual” naskah ke pihak lain. Setiap kali mengirim naskah ke media cetak misalnya, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah, “Berapa honornya?” Kalau ternyata kecil, mereka tak jadi mengirim naskah. Kalaupun akhirnya mengirim, itu karena mereka benar-benar sedang butuh uang

Berita baiknya, para penulis yang berdiskusi pada group “Story Teenlit Magazine” tersebut memiliki pandangan yang berbeda. Berikut saya kutip beberapa di antaranya.

Donatus A. Nugroho:

Honor pentinglah. Sangat penting. Dan jangan segan menghargai karya sendiri. Masalahnya kita kudu wise, dan bisa memahami media yang bersangkutan. Kerja sama yang baik, saling pengertian, adalah situasi yang perlu dijaga antara penulis dan penerbit (dan atau sebaliknya).

Reni Erina:

Honor memang penting. Tapi adakalanya eksistensi dan kebersamaan jauh lebih penting dari itu semua.

Palris Jaya:

Menurut saya, honor tetap sangat penting! Dan ketika ada media yang dengan jujur mengatakan honor yang minim, dan meminta kita untuk menulis rutin, itu sangat-sangat penting. Sebab, media itu sangat menghargai kita. Bagi saya itu sebuah kehormatan. Dan kelak, media itu menjadi besar dan utama, andil kita pasti tidak dilupakan. Bandingkan bila ada media baru, memuat karya kita, gak ada omongan. Ketika ditanya honor, seimprit, habis gitu gak bayar-bayar. Bisa saja kita merasa disemena-menakan.

* * *

Teman-teman sekalian,

Dalam pandangan saya, menulis di media massa itu punya tiga tujuan utama:

Portofolio. Semakin banyak tulisan kita yang dimuat di media massa (khususnya media cetak), itu akan makin meningkatkan kredibilitas dan reputasi kita sebagai penulis.

Menjalin hubungan baik dengan media tersebut. Ya, ini tentu sangat jelas. Bila tulisan kita dimuat di media A, artinya hubungan silaturahmi kita dengan media A akan terjalin dengan baik. Bila ada 20 media yang rutin memuat tulisan kita, maka kita punya jaringan dan silaturahmi yang kuat dengan ke-20 media tersebut. Kita harus ingat bahwa hubungan silaturahmi seperti ini jauh lebih bernilai harganya ketimbang honor.

Meniti karir sebagai penulis. Bila tulisan kita dimuat, maka level kita sebagai penulis akan meningkat. Semakin banyak tulisan kita yang dimuat, maka level kita pun akan makin naik. Secara tidak langsung, nama kita sebagai penulis pun makin dikenal.

Salah satu cerpen saya yang dimuat di majalah Story, membuat saya bahagia karena silatirahmi dengan majalah tersebut menjadi semakin baik.

Nah, demikianlah konteksnya bila kita menulis di media massa.

“Jadi honor sama sekali tidak penting, ya?”

Hm, bukan tidak penting. Tentu saja honor itu penting. Kalau saya berkata tidak penting, itu artinya saya munafik. Karena setiap orang pasti butuh uang. Setiap orang termasuk saya, pasti akan senang bila diberi uang.

Tapi seperti pendapat teman-teman penulis yang saya kutip di atas, honor bukanlah segalanya. Bagi seorang penulis pemula, pasti bila naskahnya berhasil dimuat pun sudah sangat senang. Berapa honornya bagi mereka sama sekali tidak penting.

Nanti bila semakin banyak naskah Anda yang dimuat, maka secara perlahan “kelas” Anda akan semakin meningkat. “Daya tawar” Anda di depan media pun semakin kuat. Dan bila “daya tawar” sudah sangat kuat, maka Anda bahkan bisa berkata kepada setiap media, “Saya hanya mau memuat tulisan di media Anda bila honornya sekian juta rupiah.” Walau faktanya Anda tidak tega berkata seperti itu, tapi yang jelas Anda bisa melakukannya bila Anda mau

Intinya, karya kita akan “dihargai mahal” bila kita memang sudah berhasil MEMBUKTIKAN kepada para media bahwa kita memang PANTAS dibayar semahal itu. Jadi daripada sibuk menuntut semua media agar memberikan honor yang mahal untuk tulisan-tulisan kita (padahal menurut mereka kita mungkin belum pantas untuk mendapat honor sebesar itu), alangkah bijaksananya bila kita fokus untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis.

Bila kualitas kita sudah meningkat, maka tanpa diminta pun semua media akan dengan senang hati membayar naskah kita dengan harga yang pantas.

Reni Erina dalam catatannya di group Story Teenlit Magazine tersebut, menulis:

“….aku teringat masa lalu. Honor kecil, bahkan terkadang hanya dibayar dengan alat tulis atau t-shirt. Sekarang ini aku bisa mematok harga. Sayangnya, aku gak selalu matre. Ada kalanya aku “kerja bakti” untuk meramaikan sebuah majalah, atau buku atau acara. Ada kalanya aku harus “Bebel”.

…Ingat, tak selamanya semua dilihat dari NOMINAL. Bahwa honor adalah sesuatu yang penting. Tetapi sekali lagi, lihat sampai sejauh mana kita bisa disejajarkan dengan nominal….”

Selain itu, ada tiga faktor lain yang perlu kita perhatikan:

PERTAMA:

Tiap media punya kebijakan yang berbeda-beda mengenai besarnya honor. Ada yang hanya sanggup memberikan honor kecil, karena media mereka pun masih kecil. Ada pula media yang berani membayar mahal bahkan untuk penulis pemula sekalipun.

Sebagai penulis kita haruslah menyesuaikan diri dengan kebijakan seperti itu. Kita jangan ngotot meminta honor (misalnya) Rp 1 juta pertulisan pada media yang hanya sanggup membayar (katakanlah) Rp 100 ribu. Seperti yang saya sebutkan di atas, yang paling penting dalam pemuatan naskah di media adalah portofolio, menjalin hubungan baik, dan meniti karir. Cobalah mengirim naskah dengan niat seperti ini. Maka kita tak akan berkecil hati lagi dengan honor yang kecil.

KEDUA:

Semua tergantung konteksnya. Misalkan ada media yang meminta kita mengirim naskah untuk dimuat. Sejak awal dia langsung bicara soal bisnis, keuntungan materi, dan sebagainya. Maka bila berhadapan dengan media seperti ini, tentu SANGAT LAYAK bila kita pun langsung meminta honor yang besar dan tidak bersedia bila dibayar “seadanya”.

Sebaliknya bila ada media yang meminta kita mengirim naskah dengan semangat kekeluargaan, penuh persahabatan, dan untuk mempererat tali silaturahmi, tentu akan sangat terhormat bila kita menyikapinya dengan semangat yang sama dan tidak terlalu perhitungan soal honor.

KETIGA:

Tiap penulis punya orientasi atau pilihan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi pengisi waktu luang belaka. Karena itu, honor tulisan bagi mereka tidak terlalu penting. Ada pula penulis yang sumber penghasilan utamanya bukan dari honor tulisan, tapi dari sumber-sumber lain. Ada pula penulis yang memang benar-benar mengandalkan penghasilan utamanya dari honor tulisan di media massa. Intinya, setiap penulis itu beda, tidak bisa disamaratakan. Setiap penulis punya pilihan hidup yang berbeda-beda.

Donatus A. Nugroho

Donatus A. Nugroho adalah contoh penulis yang berhasil membuktikan bahwa dia bisa hidup mapan hanya dari honor tulisan. Dalam diskusi di group Story Teenlit Magazine tersebut, dia menceritakan bahwa dirinya berhasil membeli mobil dan rumah hanya dari honor-honor tulisannya di berbagai media.

Luar biasa? Tentu saja! Sejujurnya saya pun benar-benar “ngiler” mendengar cerita tersebut. Tapi janganlah Anda berpikir bahwa semuanya didapatkan Donatus dengan mudah. Sebab kita juga harus menyadari EMPAT FAKTA PENTING berikut:

Bila kita hanya fokus mengirim tulisan pada satu media, maka kita tak akan pernah kaya dari menulis. Sebab tidak mungkin tulisan kita bisa dimuat pada setiap edisi. Paling banter hanya sekitar sebulan sekali. Sebab yang mengirim tulisan ke media tersebut pasti sangat banyak. Si pengelola media pun tidak akan bersedia bila majalah mereka hanya diisi oleh tulisan-tulisan Anda. Mereka pun ingin memanjakan pembaca dengan berbagai macam tulisan dari beragam penulis.

Bayangkan bila honor pemuatan tulisan di media tersebut adalah Rp 500.000 pernaskah. Bisakah kita hidup layak hanya dengan uang Rp 500.000 perbulan? Tentu bisa, tapi pasti hidup yang sangat prihatin dan serba kekurangan, hehehe….

Dari poin 1 di atas, dapat disimbulkan bahwa bila kita mengandalkan penghasilan utama dari honor tulisan di media, maka kita harus berusaha agar tulisan kita bisa dimuat setidaknya 5 hingga 30 kali dalam sebulan. Masih dari poin 1 di atas, kita tak mungkin memuat 5 hingga 30 tulisan perbulan pada satu media saja. Artinya, kita harus mengirim tulisan ke banyak media. Mungkin 10 atau 20 atau 30 atau 40 media!

Agar mencapai kondisi seperti poin 2 di atas, tentu saja kita haruslah sudah berhasil membuktikan kualitas diri sebagai penulis di depan para media. Sebab tak mungkin tulisan kita dimuat setiap hari di berbagai media, bila reputasi kita sebagai penulis masih meragukan. Artinya, agar bisa hidup berkecukupan dari honor tulisan di media, tentu kita harus berjuang dulu untuk menjadi penulis yang kredibel dan punya reputasi baik di depan para media, penerbit, dan seterusnya. Tentu saja, kita harus melewati berbagai macam perjuangan, suka duka dan pengorbanan terlebih dahulu. Sebab semua sukses hanya bisa dicapai bila kita sudah melewati hal-hal seperti  itu.

Tentu saja, Donatus A. Nugroho telah melewati semua itu. Jadi Anda jangan hanya silau melihat keberhasilan dia saat ini. Tapi lihat, pelajari, dan renungkan bagaimana dulu ketika dia masih berjuang untuk meraih sukses.

Agar bisa memuat tulisan setiap hari di berbagai macam media, tentu saja Anda haruslah menjadi penulis produktif. Dengan kata lain, Anda harus FOKUS di dunia penulisan, menjadikan kegiatan menulis sebagai PEKERJAAN UTAMA Anda. Artinya, Anda harus menjadi full time writer. Sebab tak mungkin kita bisa menjadi seorang yang mendapatkan penghasilan utama dari menulis, bila kita sendiri tidak bersedia berjuang secara sungguh-sungguh untuk menjadi seorang full time writer.

Nah, apakah Anda ingin seperti Donatus A. Nugroho? Bila ya, maka yang harus Anda lakukan adalah fokus dan konsisten di dunia penulisan, dan berjuang agar suatu saat nanti bisa menjadi full time writer. Sebagai bahan referensi, coba Anda baca tulisan yang satu ini.

Sementara bila Anda punya pilihan hidup lain dan tak mau seperti mas Donatus, tentu tidak masalah karena hak setiap orang untuk menentukan pilihan hidup masing-masing.

Saya sendiri, terus terang bukanlah penulis seperti mas Donatus. Sejak tahun 2004 saya bahkan hanya sesekali mengirim tulisan ke media cetak. Saya lebih banyak menulis di internet. Kenapa? Karena saya merasa itulah pilihan hidup yang paling pas buat saya.

“Emang ada penghasilannya kalau menulis di internet?”

Hehehe… jangan salah sangka! Coba baca dulu tulisan yang ini dan yang ini. Sekadar info: Saat ini saya mendapat job untuk menulis empat tulisan di blog pribadi saya, dan tujuh tweet di Twitter, dan bayarannya setara dengan gaji seorang staf senior di perusahaan ternama. Alhamdulillah, sangat lumayan, bukan?

Karena fokus menulis di internet itulah, saya termasuk penulis yang tidak terlalu memikirkan berapa besarnya honor tulisan yang dimuat di media cetak. Bahkan tulisan saya pernah dimuat di sebuah majalah, dan saya tidak mendapat honor. Kenapa? Karena tulisan saya tersebut berisi “iklan terselubung” untuk bisnis kepenulisan yang saya kelola. Jadi wala tidak dibayar, saya merasa senang karena bisa berpromosi secara gratis di sebuah majalah. Sangat lumayan, kan?